Lemahnya Ketahanan Ideologi Jadi Pemicu Terorisme
JAKARTA,
KOMPAS - Ketahanan ideologi dan sosial budaya yang lemah, terlebih diperburuk
pandemi Covid-19, ditengarai turut memicu banyaknya anak muda yang berpikir
radikal, bahkan berani melakukan aksi teror, seperti dalam peristiwa bom bunuh
diri di Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu lalu. Perlu ada penguatan
kohesi sosial untuk mengatasi problem ini.
Adapun
Wakil Presiden Ma’ruf Amin menekankan pentingnya keterlibatan seluruh komponen
untuk mencegah terorisme.
Dimensi
ideologi dan sosial budaya menjadi yang terlemah di antara sejumlah dimensi
dalam Indeks Ketahanan Nasional 2020 hasil kajian Lembaga Ketahanan Nasional
(Lemhannas).
Tenaga
profesional Lemhannas, Dadan Umar Daihani, saat dihubungi pada Selasa
(30/3/2021), mengatakan, tanpa pandemi Covid-19, gatra ideologi dan sosial
budaya ada di tingkat yang rendah. Saat pandemi melanda, ketidakpatuhan dan
intoleransi meningkat serta rasionalitas menurun dengan didukung media sosial.
”Kohesi sosial kita sedang menurun karena faksionalisasi dari elite
dan banyak kelompok yang tidak puas. Hal ini tidak langsung meledak, tetapi ada
prakondisi, rasa frustrasi yang terus dikomporin,” katanya.
Dalam
kondisi itu, lanjut Dadan, muncul pandangan yang lebih menitikberatkan pada
keyakinan daripada fakta. Ini ditengarai berkembang di kalangan anak muda,
seperti mereka yang menjadi pelaku bom bunuh diri di Katedral Makassar. Kedua
pelaku bom bunuh diri berusia di bawah 30 tahun.
Untuk
mengatasi problem ketahanan ideologi dan sosial budaya itu, hal-hal negatif
atau ancaman yang ditimbulkan pandemi hendaknya diubah menjadi peluang. Semisal
untuk penguatan kohesi sosial masyarakat, mereka yang berkecukupan diharapkan
menolong yang berkekurangan.
Adapun
Wakil Presiden Ma’ruf Amin di sela-sela kunjungan kerjanya di Barito Utara,
Kalimantan Tengah, Selasa, menjelaskan, tindakan kontraterorisme terus
diupayakan pemerintah. Begitu pula deradikalisasi. Namun, sel-sel teroris masih
saja ada. ”Karena itu, masyarakat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat harus
membantu, baik dengan memberikan pemahaman, mengawasi, maupun mencegah
kemungkinan terjadinya radikalisme,” ujarnya.
Sementara
itu, peneliti dan pengajar antropologi di Universitas Malikussaleh,
Lhokseumawe, Al Chaidar berpandangan,bom bunuh diri keluarga (familial suicide
bombing) seperti di Makassar adalah khas kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD)
di Indonesia. Aksi teror tersebut dinilai sebagai sinkretisme yang dilakukan
ulama dengan pemahaman kekerasan di Indonesia.
Di
sisi lain, secara antropologis, keluarga muda pelaku aksi bom bunuh diri adalah
orang muda yang sedang mencari solusi dalam persoalan teologi yang mereka
hadapi. Perubahan dunia dan lingkungan di sekitarnya yang cepat membuat
pemahaman keagamaan mereka terdistorsi dan tidak memberikan jawaban yang
memuaskan.
"Ulama-ulama
organik kekerasan datang dan memberikan jawaban-jawaban yang instan dengan
interpretasi yang keras dan sebenarnya tidak islami.Mereka diindoktrinasi
secara interaktif dalam suatu pengajian yangdiasuh oleh ustad dari jaringan
JAD," kata Al Chaidar.
Selain
itu, anak muda terlibat terorisme juga bisa karena kekecewaan mereka terhadap
situasi di sekitarnya, baik dalam aspek ekonomi, sosial, dan politik. Ketika
mereka merasa tidak berguna bagi lingkungan sekitarnya, mereka berpikir bahwa
dengan aksi yang dilakukannya, mereka akan berguna baik bagi dirinya maupun
keluarganya.
Tiga orang ditangkap
Terkait
peristiwa bom bunuh diri di Katedral Makassar, Kepala Bagian Penerangan Umum
Divisi Humas Polri Komisaris Besar Ahmad Ramadhan mengatakan, polisi kembali
menangkap tiga tersangka teroris. Ketiganya perempuan, yaitu MM, M, dan MAN.
Sebelumnya, polisi menangkap empat tersangka sehingga total tujuh orang
ditangkap.
Terduga
pertama berinisial MM disebut mengetahui secara persis rencana aksi yang akan
dilakukan pelaku bom bunuh diri, yakni L dan YSF, bahkan ia ditengarai
memotivasi pasangan yang baru menikah itu.
Berikutnya
perempuan berinisial M yang merupakan kakak ipar dari SAS, terduga teroris yang
ditangkap sebelumnya. M disebut mengetahui SAS mengikuti kajian di Villa
Mutiara. Adapun terduga yang ketiga adalah MAN. Dia disebut menjadi orang yang
melihat L saat terakhir mengendarai motor menuju lokasi rencana bom bunuh diri.
MAN juga tahu SAS mengikuti kajian di Villa Mutiara.
"Terkait
dengan tersangka teroris yang telah diamankan di Makassar, mereka merupakan
kelompok atau terafiliasi langsung dengan jaringan JAD (Jamaah Ansharut Daulah)
yang sama persis pos atau markas mereka di Villa Mutiara yang ditangkap pada
tanggal 6 januari 2021 lalu," ujar Ahmad.
Sedangkan
4 orang tersangka yang telah ditangkap sebelumnya memiliki peran yang berbeda.
Untuk tersangka AS alias Eka alias AR adalah orang yang ikut serta merencanakan
aksi bom bunuh diri tersebut. Dia juga ikut dalam kelompok kajian di Villa
Mutiara dan melakukan baiat di sana.
Demikian
pula SAS yang juga mengetahui secara persis rencana L dan YSF. SAS juga
mengikuti kajian di Villa Mutiara. Adapun tersangka R alias M ikut melakukan
survei ke lokasi bersama L dan YSF. Dengan demikian, titik aksi teror tersebut
telah ditentukan sebelumnya.
Terakhir,
adalah AN alias Andre. Dia adalah orang yang mengikuti perencanaan aksi
tersebut. Dia juga mengikuti kajian di Villa Mutiara dan melakukan baiat kepada
Abu Bakr al-Baghdadi, pimpinan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS/ISIS).
Jaringan Jakarta
Adapun
mengenai jaringan teroris Jakarta yang diungkap pada Senin, Kepala Bidang Humas
Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus menyatakan, penyidik
belum menemukan keterkaitan antara jaringan teroris itu dan peristiwa bom bunuh
diri di Makassar.
Selain
menyita barang bukti bom dan bahan bakunya yang cukup banyak dari jaringan
teroris Jakarta, polisi menemukan pula kartu anggota salah satu ormas yang
telah dinyatakan terlarang. Nama yang tertera di kartu anggota itu adalah HH,
salah satu terduga teroris yang ditangkap. Di kartu anggota itu ditulis jabatan
HH adalah wakil ketua bidang jihad pada dewan pimpinan cabang di Kecamatan
Kramatjati, Jakarta Timur.
Kepala
Bidang Humas Polda Sulawesi Selatan Komisaris Besar E Zulpan menyatakan, Polri
menjamin keamanan umat Kristiani dalam merayakan rangkaian ibadah Paskah, akhir
pekan ini. ”Masyarakat tak perlu panik dan takut,” katanya.
Menurut
dia, Kepala Polda Sulsel Inspektur Jenderal Merdisyam telah menginstruksikan
jajarannya untuk meningkatkan pengamanan. (NAD/INA/JOG/OKA)
Sumber :
Komentar
Posting Komentar